Karina Salim Mulai Bersinar di Dunia Hiburan

Dia datang beberapa menit lebih awal dari waktu yang disepakati. Wajahnya sudah terpoles sedikit riasan danrambutnya tampak tertata rapi. Senyum ramahnya mengantar uluran tangan yang menjadi momen perkenalan kami. Mau tidak mau gambaran klise yang biasa menyertai citra seorang selebriti (telat datang, kurang ramah, wajah kuyu di pagi hari) langsung pupus begitu saja. Padahal, ketika dia bercerita tentang berbagai kesibukan yang dijalaninya sekarang, saya pun sampai berdecak kagum.

Karina Salim

Bagaimana mungkin seorang wanita berusia 24 tahun yang memiliki berbagai aktivitas sangat padat bisa selalu terlihat tetap sempurna. Selain fakta bahwa wanita adalah makhluk yang piawai melakukan multitasking job (siapa yang bisa menyangkal pendapat ini?), Karina sendiri punya rahasia khusus yang kemudian saya ketahui setelahberbincang dengannya. Balet. Ya, tarian klasik itu. Dia menganggap balet adalah salah satu “pelajaran hidup”yang bisa membentuknya hingga menjadi sosok seperti sekarang. “Sekarang aku lagi sibuk promo single aku, lagu lama dari Warna yang berjudul Dalam Hati Saja.

Lagunya sudah diluncurkan beberapa bulan lalu, aku baru sempat promosi sekarang karena bulan lalu harus tinggal di Ambon untuk syuting film Salawaku yang akan tayang tahun depan dan ada juga jadwal syuting iklan di Bangkok,” ujar Karina sekilas bercerita tentang kesibukan yang dijalaninya sambil mempersilakan penata rias membubuhkan taburan bedak di wajahnya.

Waktunya memang saat ini sedang difokuskan untuk dunia tarik suara. Meskipun sedang disibukkan dengan kegiatan promosi single yang agak terlambat, dia bahkan sudah bersiap-siap meluncurkan single baru hasil kolaborasinya dengan solis Mytha Lestari. Jika sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, akhir tahun ini mungkin saja Karina akan memulai workshop pembuatan album perdananya. Di bidang seni peran, dia juga harus menghadapi proses produksi sebuah film yang baru akan dimulai awal tahun depan. Jika itu masih belum cukup membuat Anda kagum atau malah heran, Karina juga saat ini masih disibukkan dengan studi baletnya yang tengah memasuki tingkat akhir.

“Aku sudah mulai belajar balet dari umur lima tahun. Kebetulan sekolah baletku ini berafiliasi dengan lembaga pendidikan balet bergengsi yang ada di Inggris. Jadi, kalau aku bisa menyelesaikan tahap akhir ini, aku bisa dapat gelar dan sertifikat juga dari sana,” ujarnya antusias. Aksi Karina di dunia hiburan bermula sejak pementasan drama musikal Onrop yang digarap oleh sutradara film ternama Joko Anwar pada tahun 2010 silam. “Dari situ, aku mulai mendalami dunia teater dan akting. Dan dari drama musikal itu juga banyak yang menawariku kesempatan untuk menjadi penyanyi.

” Namanya perlahan-lahan mulai dikenal lewat penampilannya dalam beberapa film. Dia kembali bekerjasama dengan Joko Anwar dalam sebuah film pendek berjudul Durable Love (2012), yang juga memperlihatkan kemampuan menari dan aktingnya yang spontan. Namanya semakin melambung ketika film yang dibintanginya What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013), besutan sutradara pemenang piala Citra Mouly Surya, masuk dalam daftar seleksi Festival Film Sundance. Meskipun kiprahnya sebagai seorang aktris menuai banyak pujian, Karina mengakui bahwa dunia seni peran dilakoninya tanpa ambisi tertentu, tanpa beban.

Bahkan dia tidak berniat mencari popularitas dari situ. “Setiap tawaran yang datang biasanya tidak langsung aku terima begitu saja. Aku setidaknya harus membaca naskahnya dulu, lalu mencari tahu siapa saja yang akan terlibat dalam proyek itu.” Tak heran penampilan Karina hingga sekarang pun masih terasa sangat terbatas. Meskipun begitu, jika dia sudah berkomitmen terhadap suatu proyek, Karina akan menjadi benar-benar fokus. “Balet mengajarkan aku untuk menghargai setiap proses yang harus dihadapi jika ingin meraih suatu tujuan,” ujarnya singkat.

Untuk menyelami perannya sebagai seorang gadis tunanetra di film What They Don’t Talk About When They Talk About Love, Karina bersusah payah mempelajari huruf braille. Sedangkan untuk perannya sebagai gadis indigo di filmMantan Terindah, dia juga melakukan riset berkumpul bersama komunitas orangorang indigo. “Aku bisa belajar hal-hal baru yang tidak kualami dalam kehidupanku sebenarnya. Itulah yang aku suka dari akting.” Dunia tarik suara memang baru digelutinya belakangan, Akan tetapi, menjadi seorang penyanyi adalah sebuah cita-cita yang diimpikannya sejak kecil. Sejak usia belia, ia sudah belajar olah vokal dengan mendiang Elfa Secioria. Lucunya, setiap kali kesempatan datang untuk menunjukkan suara indahnya, dia selalu saja merasa ragu. “Menjadi penyanyi itu adalah childhood dream aku.

Saking kuatnya keinginan itu, aku selalu saja merasa takut dan nggak percaya diri kalau diminta tampil bernyanyi.” Sampai akhirnya di film Mantan Terindah, dia bisa bertemu dengan pencipta musik ternama Yovie Widianto. “Mas Yovie bisa meyakinkan aku untuk lebih percaya diri dan membuat aku tidak ragu lagi untuk menunjukkan bakatku,” ujar Karina. Dari mengisi soundtrack untuk film itu, hingga tawaran bernyanyi di setiap kegiatan promosi, semua dilakukannya dengan antusias. Ketika Sony Music Indonesia menawarinya untuk masuk dalam label itu, dia pun tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan. Lagu lawas Dalam Hati Saja yang merupakan kreasi Yovie Widianto dipilih Karina sebagai wujud rasa terima kasihnya pada sang komposer.

argan

Author
No description.Please update your profile.

View all post by argan