Mengatasi Kecanduan Media Sosial Di Era Modern

Adapun pesepak bola muda Inggris, Harry Kane, memilih menghilang sejenak dari keriuhan Internet karena ingin fokus saat menghadapi kompetisi Piala Dunia 2018 lalu. “Terlalu banyak membaca isi media sosial membuat saya sulit berkonsentrasi dan banyak pikiran,” ujar Kane. Dia merasa permainan sepak bolanya bisa lebih baik jika dia dalam kondisi tanpa beban dan pikiran.

Strategi Kane cukup berhasil, meski gagal membawa tim nasionalnya menembus final Piala Dunia, Kane menjadi pencetak gol terbanyak di perhelatan tersebut. Kesadaran untuk stop mengumbar kehidupan pribadi di Internet juga timbul pada masyarakat umum. Salah satu yang melakukannya ialah Zulkarnaen. Sama seperti Sarah, pria 31 tahun ini mengaku kualitas hubungan sosialnya jadi lebih baik. Karena tak lagi mengikuti kabar teman-temannya di media sosial, Zulkarnaen mengaku setiap momen ngumpul dengan sejawatnya jadi lebih seru. “Bukan sekadar basa-basi, tapi memang jadi ingin tahu kabar mereka.”

Manfaat lain yang ia rasakan adalah munculnya banyak hobi dan kegiatan baru di waktu senggangnya. Mengulik cita rasa kopi atau melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor seorang diri menjadi kegemaran terbarunya. “Kalau hari libur, tiba-tiba suka iseng, jalan-jalan ke mana saja,” ujar pria 31 tahun yang bekerja sebagai tenaga pemasaran salah satu produsen mesin kopi di Jakarta ini kepada Tempo, Selasa pekan lalu. Sudah setahun Zulkarnaen menonaktifkan semua akun media sosialnya.

baca juga : http://idc-inparadise.com/kegunaan-mesin-genset-5000-watt/

Dari Twitter, Path, Facebook, hingga Instagram. Semua aplikasi media sosial di ponsel berlambang buah apel tergigit miliknya dihapus. Padahal, sebelumnya, semua program itu selalu setia menemani. Setiap ada kesempatan, ia pasti selalu mengecek lini masa aneka media sosialnya itu. Kebiasaan tersebut bertambah parah pada malam hari. Setiap sebelum tidur, ia pasti menjelajahi isi media sosial hingga mengantuk. Tapi, alih-alih kantuk yang datang, Zulkarnaen mengaku makin sulit memejamkan mata. Akibatnya, dia sering begadang dan bangun kesiangan di hari kerja.

Dia mengaku kinerjanya menurun dan malas-malasan. Setiap ada waktu luang, dia pasti membuka ponsel untuk bermain media sosial. Karena merasa ada yang tak beres, pelan-pelan dia meninggalkan kebiasaan itu. “Ujungujungnya, saya merasa semua isi media sosial itu tidak bermanfaat.” Perasaan itu bertambah besar saat periode kampanye dan pemilihan Gubernur DKI Jakarta pertengahan 2017 lalu. Saat itu, kata Zulkarnaen, isi lini masa semua media sosial yang ia miliki terkait dengan politik. Suasana panas itu membuatnya muak. “Akhirnya saya hapus akun di Facebook dan Twitter.” Terbebas dari dua media sosial itu, Zulkarnaen mencoba tak mengakses Instagram selama beberapa hari. “Ternyata enak juga, pikiran lebih segar, kebiasaan begadang jadi berkurang.”

Gangguan tidur dan rasa malas yang muncul pada Zulkarnaen akibat kecanduan mengakses media sosial mirip dengan gejala gangguan yang disebabkan kebiasaan atau kecanduan, seperti dinyatakan dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD). Dalam daftar yang dikeluarkan badan kesehatan PBB (WHO) pada pertengahan Juni lalu itu, lembaga ini tak menyebut kecanduan media sosial sebagai penyakit gangguan mental. Pada daftar ICD tersebut, WHO justru menyatakan kecanduan “video gim” (game) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya.

Dikutip dari web resmi WHO, kecanduan game didefinisikan sebagai pola perilaku bermain, baik permainan online maupun offline (game digital atau video game), dengan beberapa tanda: tidak dapat mengendalikan keinginan bermain game; lebih memprioritaskan bermain game dibanding minat terhadap kegiatan atau aktivitas lainnya; dan seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. WHO juga menyatakan, kecanduan game dianggap sebagai disorder bila pola perilaku tersebut sangat kuat dan berdampak baik terhadap pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, maupun area penting lainnya, dan terlihat jelas selama setidaknya 12 bulan.

Meski begitu, psikiater dan spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjand, Prianto Djatmiko, menyatakan psikiater harus berhati-hati dalam menentukan kriteria gangguan yang dialami seseorang. “Harus diperiksa secara menyeluruh dulu,” ujarnya kepada Tempo, Kamis lalu. “Dirilisnya ICD oleh WHO itu perlu diimplementasikan dan diadaptasi di Indonesia, tapi perlu kajian mendalam dengan pendekatan multidisiplin.” Dalam ilmu psikiatri, kata Prianto, ada batasan kriteria untuk menyebut suatu aktivitas sudah dalam tahap merugikan pelakunya.

Misalnya, seseorang menghabiskan waktu hanya untuk aktivitas tersebut, sembari meninggalkan kewajiban pokok sehari-hari yang lebih penting. “Bisa saja Internet atau media sosial membuat seseorang menjadi seperti itu.” Dalam kondisi lebih parah, ujarnya, seseorang akan merasa tergantung secara fisiologis. “Timbul gejala-gejala putus penggunaan, seperti pengguna narkoba yang sakaw.” Prianto mengaku pernah menangani pasien yang sudah dalam taraf kecanduan hingga mengalami ketergantungan pada Internet dan video game. “Ada, tapi kasusnya masih jarang.” Untuk penanganannya, kata dia, pasien pun tak bisa asal dibawa ke psikolog atau psikiater. “Harus sesuai usianya. Kalau anak-anak dan remaja, ada bidang khusus yang menangani.”

Manfaat berhenti berkutat dengan media sosial juga dirasakan Adam Ghazali, 32 tahun, karyawan swasta yang berkantor di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Adam sudah empat tahun tak lagi membuka-buka Facebook dan aplikasi sejenis. Pemicunya sederhana, dia lupa kata kunci untuk masuk ke akunnya. Bermula dari lupa “password”, Adam merasa hidupnya lebih tenang saat tak mengetahui kabar teman-temannya di Internet. Empat tahun lalu, pria yang tinggal di Bogor ini sudah merasa lini masa media sosial hanya jadi ajang memamerkan halhal yang tak penting.

Dia sudah merasa jengah sejak saat itu, dan mendapatkan momentum untuk “menyepi” dari keriuhan Internet setelah menikah. “Saya ingin membangun komunikasi yang sehat dan berkualitas dengan istri.” Adam dan istrinya akhirnya membuat komitmen: ponsel hanya boleh digunakan di rumah untuk keperluan penting atau pekerjaan, bukan untuk sarana hiburan.“Komitmen ini semakin kuat saat istri melahirkan anak pertama.”

Pada akhirnya, kata Adam, telepon seluler yang ia miliki hanya digunakan untuk sebatas mengirim pesan elektronik, bertransaksi e-banking, berkomunikasi, dan membaca berita seperlunya. Ingin memiliki waktu yang lebih berkualitas dengan keluarga juga menjadi alasan Miradin Syahbana menghapus akunakun media sosialnya.

Padahal pria yang berprofesi sebagai jurnalis olahraga di Bandung ini sempat ketagihan bermain Facebook. “Bahkan dulu saya berkenalan dengan istri saya melalui Facebook.” Setelah menikah pada 2010 lalu, ia menutup akunnya. Kepopuleran media sosial lain, seperti Instagram, Path, atau Twitter, tak menarik perhatiannya. “Saya hanya suka Facebook karena fiturnya lebih lengkap, tapi belakangan jadi garing juga.”

admin Author

No description.Please update your profile.

View all post by admin